Untuk Bu De Imah dan Mereka yang Pantang Menyerah



Seringkali kita terlambat sadar bahwa hanya butuh langkah kecil untuk menjadi lebih bermanfaat bagi sekitar. Menjadi #LebihBerarti

****

Hampir setiap pagi, bila sedang tidak belanja di pasar, saya akan terdampar di gerobak penjual sayur. Gerobak itu saban hari mangkal di gerbang samping,  komplek rumah kami. Biasanya ketika saya datang sudah banyak ibu-ibu berbelanja.

 "Belanja di sini enak, harganya murah dan Ibu penjualnya ramah," ujar salah seorang Ibu suatu pagi pada saya.
Nama penjual sayur itu Imah. Saya biasa memanggilnya Bu De Imah. Dari perawakannya, perempuan itu sebaya dengan Ibu saya. Seperti yang dirasakan pelanggan lain, saya juga nyaman belanja dengan Bu De Imah. Dia juga pintar membujuk pelanggan untuk membeli dagangannya.

Misalnya ketika suatu pagi Bu De Imah membawa buah rambutan. Saya yang semula tak berniat membeli akhirnya menenteng dua renjeng rambutan pulang. Begitu juga ketika dia menjual buah nangka.

posted under | 18 Comments

Rambu di Simpang Tiga

Nulisbuku.com

LELAKI itu datang lagi. Persis seperti subuh-subuh sebelumnya. Menunggangi bebek tua dengan rompi kulit buaya.

posted under | 0 Comments

Ubi Goreng Amak

Sore ini, saya menyiapkan camilan ubi goreng untuk keluarga kecil kami. Ubinya ubi merah. Saat Pertama melihat, si sulung Bintang langsung antusias mencoba. Sayangnya hari ini, ia tak begitu enak badan. Semangat makannya hanya besar di potongan pertama. :-)

posted under | 0 Comments

Lukisan Kanvas Dua Wajah




“Amak ingin punya foto yang dilukis.”


Ucapan itu selalu terngiang saat saya melihat sebuah amplop yang terselip di antara dokumen penting di rak buku. Amplop itu berisi foto dengan gambar seorang perempuan dan lelaki muda. Foto yang kini seharusnya  jelma menjadi lukisan; sebuah lukisan kanvas dua wajah. 

Setiap kali saya membuka amplop, perempuan dalam foto akan menyunggingkan senyum damai. Senyum yang selalu membuat saya kuat. Senyum yang memberi kehangatan di saat saya tengah lemah. 

Perempuan itu, yang memakai baju kurung merah muda dengan selendang di kepalanya adalah Amak. Ibu yang melahirkan, dan membesarkan saya. Ibu yang padanya saya temukan kedamaian. Ibu yang selalu membuat saya rindu. Rindu untuk pulang.

posted under | 9 Comments

Aceh dan Kekuatan Kemanusiaan

Source : Shutterstock
Cuplikan berita yang disiarkan salah satu stasiun televisi mengenai kehidupan para pengungsi Rohingya di Aceh awal Oktober lalu membuat saya terharu. Lebih lima bulan di lokasi penampungan wajah para pengungsi tak lagi muram. Anak-anak dengan riang bermain dan belajar. Sedangkan para orang tua terlihat aktif dengan berbagai pelatihan keterampilan dan pertanian.

posted under | 1 Comments

Me Time Itu...

Sendal gunung, tas punggung, dan kerudung. Hup! Saatnya me time.

Empat bulan terakhir, sejak menepi dari dunia kerja dan menyandang status sebagai ibu rumah tangga penuh waktu, praktis hari-hari saya habis di rumah. Bermain dan belajar bersama jagoan dan srikandi kami, Bintang, 25 bulan,  dan Zizi, 7 bulan.

Setiap hari tiada henti kami menemukan hal-hal baru. Saya tak pernah bosan menyaksikan keajaiban tumbuh kembang anak-anak kami.

posted under | 0 Comments

MATI Lampu dan Silahturahmi

Ilustrasi : umcgalena
Mati lampu. Sekarang kami harus membiasakan diri dengan ritual satu ini. Saat masih tinggal di kontrakan lama, di kawasan kediaman wakil presiden, petinggi partai, pengusaha kaya dan artis kondang, kami hampir tak pernah merasakan yang namanya mati lampu. Salah satunya karena ini daerah prioritas. Kalau pun ada mati lampu, biasanya sudah ada pengumuman paling tidak dua jam sebelumnya.

posted under | 0 Comments
Posting Lama