Sebuah Catatan di Hari Konsumen : Kenapa Harus #BeliyangBaik

Mei 07, 2018




"Dek, beli yang "jelas" saja. Untuk keluarga harus berikan yang terbaik," ujar suami suatu kali.

* * *

SETIAP kali belanja di supermarket, saya selalu terkesima dengan jor-joran diskon berbagai produk. Salah satu yang tak pernah luput dari perhatian adalah parade diskon berbagai merek minyak goreng. Satu rak, bahkan dua rak yang disediakan toko retail habis untuk memejeng minyak goreng diskon itu.

Pekan ini diskon besar diberikan minyak goreng merek A. Pekan depannya lagi minyak goreng merek B. Selalu saja bergantian merek yang menjadi jawara. Mayoritas pembeli tentu tertarik dan berebut memasukkan minyak termurah ke dalam troli belanja.

Tapi tak semua merek larut dalam pesta. Dalam pengamatan saya ada beberapa merek yang harganya stabil. Kalaupun ada diskon biasanya tak jauh dari harga normal. Ke rak inilah biasanya kami berlabuh dan menyambar dua bungkus minyak 2 liter untuk kebutuhan bulanan keluarga kecil kami.

Sebenarnya, dulu saya termasuk rombongan ibu-ibu pemburu minyak goreng diskon. Tapi ya itu dulu, sebelum saya dicolek suami.

"Dek, beli yang "jelas" saja. Untuk keluarga harus berikan yang terbaik," ujar suami suatu kali saat saya tergoda membeli minyak juara diskon.

Saya sempat ngotot waktu itu. Alasannya membeli sang jawara membantu menekan pengeluaran bulanan kami. Hihi... :-) Tapi suami memberi argumentasi yang saya kira masuk akal sehingga terpatri di otak hingga kini.

"Coba Adek bayangkan. Bagaimana mereka bisa menekan harga begitu jauh dari harga normal. Kalau tak kualitasnya turun, bisa juga biaya produksi yang dipangkas. Salah satunya menurunkan standar bahan baku," ujar suami lagi.

Buah sawit baru dipanen

Soal standar produksi, salah satu isu yang jadi sorotan adalah produksi produk sawit yang tak lestari seperti;

  • Diolah dari sawit yang ditanam pada tanah hasil merambah hutan alam
  • Kebun sawit di lahan gambut dalam
  • Ditanam di atas lahan hasil  membakar hutan
  • Ditanam di kebun yang tak memperhatikan keanekaragaman hayati.
Argumentasi suami ini jelas belum terbukti. Tapi saya juga tak punya sanggahan atas itu. Jadilah troli kami jarang mampir ke rak jawara diskon lagi.  Menurut kajian WWF Indonesia, dengan mengkonsumsi 1 liter minyak goreng lestari, berarti turut mendorong pertumbuhan 2-3 meter persegi kebun sawit yang lestari. 

Harus diakui tak mudah bagi kami mencari minyak goreng "jelas". Apalagi saat ini belum ada produk lokal yang memakai logo standar untuk menentukan minyak goreng layak; semacam logo halal lingkungan.

Untuk produk sawit logo 'halal' itu berasal dari RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) yang berlaku internasional. RSPO adalah asosiasi yang terdiri dari para pemangku kepentingan dari tujuh sektor industri minyak sawit. RSPO mengembangkan dan mengimplementasikan standar global untuk minyak sawit berkelanjutan.


Pemerintah Indonesia pun sebenarnya juga punya label sendiri dengan mengusung skema komplementer melalui ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil). Kenyataannya, produk berlabel "halal" ini belum tersedia di pasar lokal.

Karena tak ada label RSPO ataupun ISPO, selama ini kami hanya berpatokan pada track record perusahaan produsen. Kami berprasangka baik saja bahwa perusahaan yang sudah mengantongi label RSPO untuk minyak goreng ekspor juga memproduksi minyak goreng untuk konsumsi lokal dengan standar sama.

Mungkin saja prasangka kami keliru. Bisa saja produk lokal dibuat jauh di bawah standar produk eskpor untuk menyeimbangkan biaya produksi. Entahlah. Paling tidak kita bisa mengacu pada daftar perusahaan ramah lingkungan.

Ragam produk turunan sawit

Minyak goreng sebenarnya bukanlah satu-satunya produk olahan sawit yang kita gunakan. Lebih dari 50 persen kebutuhan rumah tangga juga berbahan baku sawit. Aneka makanan, kosmetik, margarin, produk farmasi, sampo, sabun, deterjen, pasta gigi hingga campuran bahan bakar.


Kenapa Harus #BeliYangBaik

Membiasakan diri untuk mem-#BeliYangBaik tak hanya berguna bagi keluarga semata. Puluhan juta orang yang terdampak akibat pengelolaan perkebunan sawit tak lestari akan terbantu.

Ketika kabut asap menutupi langit sebagian besar Pulau Sumatera dan Kalimantan, orang beramai-ramai menyalahkan lambatnya antisipasi pemerintah memadamkan api. Ada pula yang mengumpat perusahaan sawit yang dituding membakar hutan. Atau bahkan menyalahkan Tuhan karena memberi mereka kehidupan di tanah gambut yang mudah terbakar.

Ayolah! Tanah gambut itu sudah ada sejak puluhan, ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Tapi fenomena kabut asap baru ada setelah industri sawit booming dua dekade lalu. Itu artinya ada yang salah dengan pengelolaan perkebunan sawit kita. Eits. Jangan pula buru-buru mengklaim bahwa ini semata kesalahan industri sawit. Sebagai konsumen, apakah kita peduli?

Berdasarkan survei yang dilakukan AC Nielsen dan WWF Indonesia pada Juni 2013, kesadaran konsumen Indonesia untuk menggunakan produk ramah lingkungan sangat rendah. Dari survei yang dilakukan di lima kota besar; Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Semarang belum ada 50 persen konsumen yang peduli.

Ketidakpedulian ini kemudian diartikan produsen sebagai tak adanya permintaan pasar sehingga mereka tak perlu menyertakan label ramah lingkungan pada produk sawit di pasaran lokal. Buktinya, ketika pasar Eropa dan Amerika mewajibkan menyertakan label ramah lingkungan mereka bisa memenuhinya.

Grafis konsumsi dan produksi sawit dunia

Saya percaya, semakin banyak konsumen menerapkan #BeliYangBaik, akan semakin banyak pula perusahaan yang peduli. Apalagi Indonesia merupakan lima besar negara dengan jumlah pengguna minyak sawit dan turunannya di dunia.

Tak hanya manusia. Mem-#BeliYangBaik juga akan menyelamatkan beraneka makhluk yang terganggu akibat budidaya sawit yang serampangan. Bila hutan lindung tak dialihfungsikan secara sembarangan tak akan ada berita gajah dan harimau masuk kampung.

Bila lahan tak dibakar, tak akan terdengar lagi raung kesakitan orang utan yang terbakar. Dan bila sungai-sungai tak lagi dimuntahi limbah pupuk dan pestisida, tak akan ada lagi spesies ikan yang hilang.

Yuk Minta Produk #SawitYangBaik

Pelajaran dari membeli minyak goreng ramah lingkungan tentu saja harus diteruskan dengan selektif membeli produk lain. Sayangnya lagi-lagi saya tak punya banyak pilihan. Karena itu saya tak mau ketinggalan  bergabung dengan jutaan orang lainnya menyuarakan pada para produsen agar segera menyediakan produk sawit lestari.

Tak hanya saya, kita semua juga bisa menyuarakannya dengan turut menandatangani petisi #BeliYangBaik yang digagas WWF-Indonesia di Change.org. Petisi ini  kita harapkan bisa mendobrak kesadaran banyak kalangan; pengambil kebijakan, produsen, termasuk kita sebagai konsumen. Dengan begitu seluruh keluarga di dunia akan mendapatkan konsumsi yang terbaik untuk hidup yang lebih baik pula.



Referensi tulisan:
http://www.beliyangbaik.org/
http://www.rspo.org/consumers/about-sustainable-palm-oil
http://www.wwf.or.id

You Might Also Like

4 comments

  1. Harus #beliyangbaik.. meski aksesnya ga mudah ya..

    BalasHapus
  2. Harus #beliyangbaik.. meski aksesnya ga mudah ya..

    BalasHapus
  3. Kudu bijak sebelum berbelanja apa lagi masalah bahan untuk dapur ya kak

    BalasHapus
  4. mesti beli yang baik walaupun harganya sedikit beda, hehe

    BalasHapus